Tuesday, November 29, 2011

Bencana Pengangguran Muda

Belum lama ini, HSBC dan Standard Chartered Bank menyampaikan hasil riset yang cukup menggembirakan. Yakni tentang dominasi kaum muda dalam kelompok mapan di Indonesia dengan kekayaan Rp 500 juta. 

Terbayang, Indonesia akan makin produktif.  Apalagi Standard Chartered Bank menyebutkan, jumlah penduduk mapan di Indonesia ada 4 juta orang (terbanyak nomor tiga di Asia).

Tetapi berita gembira itu seakan begitu cepat berlalu. Sebabnya adalah data pengangguran dari kalangan muda yang dilansir Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas). Dalam enam bulan atau periode Agustus 2010-Februari 2011, jumlahnya sudah naik lebih dari 455 ribu. 

Pada Februari tahun ini, kelompok produktif di kelompok 15-24 tahun yang berstatus pengangguran terbuka (tidak bekerja sama sekali), mencapai 24 persen total angkatan kerja muda yang berjumlah 20-an juta. Dari jumlah ini juga, yang hanya bisa kerja paruh waktu mendekati enam juta orang.

Situasi seperti ini dialami juga oleh negara anggota kelompok kerjasama ekonomi dan pembangunan atau OECD. Periode 2010 di Prancis, tingkat pengangguran muda mencapai 22,5 persen total angkatan kerja kelompok tersebut. 

Sementara di Spanyol dan Yunani, yang sedang krisis, pengangguran muda mencapai 41,6 persen dan 32,9 persen. Peningkatan jumlah pengangguran terbuka di kelompok muda ini, untuk kawasan Eropa seperti dicatat OECD, adalah akibat krisis. Mereka tak terserap lapangan kerja.

Untuk Indonesia, mereka tidak terserap bukan lantaran krisis melainkan karena lapangan kerja yang kurang. Apalagi investasi pemerintah di bidang infrastruktur masih sangat minim, sekitar 3,8 persen dari pendapatan nasional atau separuh dari Orde Baru.

Jika tidak serius diperhatikan, kondisi ini akan mencemaskan generasi NEET atau not in education, employment, or training. Mereka akan makin sulit terserap lapangan kerja.

Karena itu, iming-iming studi Bank Dunia bahwa Indonesia menikmati bonus demografi mulai 2018, bisa terjadi sebaliknya. Bencana demografi juga di depan mata, seandainya pemerintah lengah dan membiarkan terus naiknya pengangguran di kelompok muda.

(Bonus demografi artinya kelompok usia produktif makin besar dan kelompok usia tidak produktif, yang kehidupannya sangat bergantung, makin kecil).

Bahkan OECD mencatat, pengangguran muda yang berlarut akan menimbulkan efek negatif berupa penurunan kemampuan, hilangnya nilai-nilai dalam diri (biasanya kaum muda sangat percaya diri) dan remuknya motivasi. 

Lebih jauh, situasi ini merupakan bibit meningkatnya kemiskinan, orang sakit jiwa, dan sulitnya anak-anak masuk sekolah. Apalagi tak bisa diingkari biayanya terus naik. Ada program sekolah gratis, namun sumbangannya besar.

Karena itu, gelembung penduduk usia produktif harus dikelola, sehingga betul-betul jadi bonus. Walaupun saat ini, kata John P. Martin, Direktur OECD, situasi ekonomi sedang tidak menguntungkan. Perhatian terhadap usia produktif tidak bisa ditunda.

Jangan sampai kondisi ini justru menjadi masa sendu kaum muda. Pembiaran terhadap kelompok usia produktif yang sarat kebutuhan ini bisa menjadi bencana bagi perekonomian mendatang. Bukan hanya menjadi potensi migrasi besar-besaran ke kota besar, mereka juga akan berpikir, “sekolah ternyata hanya buang waktu, toh pada akhirnya tidak bisa bekerja.”

Dan situasi pun akan makin rumit.

Herry Gunawan jadi wartawan pada 1993 hingga awal 2008. Sempat jadi konsultan untuk kajian risiko berbisnis di Indonesia, kini kegiatannya riset, sekolah, serta menulis.



Sumber

0 komentar:

Post a Comment